Rintihan sang pendaki yang gagal mencapai puncak untuk menjemput si Rajawali yg selama ini melambai-lambaikan sayapnya minta dikasihi, ternyata telah terbang tinggi bersama yang lain.



Senin, 22 Maret 2010

brakhir tampa pernyataan

Betapa aku sangat membenci kata-kata “akhir” atau “perpisahan”. Aku lebih suka menggantinya dengan “sampai jumpa lagi” atau “sampai ketemu lagi”. Rasanya, pengucapan selamat tinggal seolah satu kata paling kejam yang pernah ada. Aku berani bertaruh bahwa tak seorang pun yang menyukai perpisahan atau hal semacamnya. Terlebih jika suatu perpisahan—yang pada awalnya tak mungkin terjadi—akhirnya terjadi namun tanpa satu patah kata pun terucap. Betapa sakit hati ini.

Aku mungkin tak harus menceritakan kisah-kisah sedih seputar perpisahan karena setiap orang pasti pernah mengalaminya. Satu-satunya pengucapan yang bisa membuat hati rapuh dan hancur berkeping-keping bagai kristal—meski cinta juga bukan satu-satunya kata yang bisa membuat hati berbunga-bunga.

Mungkin, perpisahan tak harus diucapkan dengan kata-kata—karena cinta pun terkadang terjalin tanpa ada pengucapan apapun. Tapi, setidaknya perpisahan bisa menunjukkan sesuatu yang akan mengarah kesana. Oh, jangan lagi! Aku sepertinya juga mulai tidak menyukai kata ini setelah aku membenci sebuah kenangan. Perpisahan dan kenangan memang telah menjadi satu rumpun dalam satu wadah besar bernama kehilangan.

Aku sebenarnya tidak ingin mengungkapkan sesuatu yang bertajuk kesedihan, tapi kalau aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya, hati ini akan lebih hancur lagi—hancur lebur dan rata dengan tanah.

Pada akhirnya aku pun berharap segala sesuatu yang berkaitan dengan perpisahan, kenangan, kehilangan, atau apapun namanya itu bisa segera lenyap dari jarak pandangku. Aku tak ingin mereka mengganggu hidupku lagi. Tidak disaat aku sedang bahagia dan akan meniti sesuatu yang lebih besar di masa depan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar